MAKASSAR – Bahasa Bugis selangkah lebih maju menuju era digital. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Elektronika dan Informatika resmi menjalin kerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas). Kolaborasi ini difokuskan pada riset bertajuk “Pengembangan Purwarupa POS Tagger dan Transkripsi Audio Bahasa Bugis Berbasis AI untuk Mendukung Dokumentasi Bahasa Daerah dalam Ekosistem Big Data.”

Pertemuan perdana digelar pada Rabu, 20 Agustus 2025 di Ruang Rapat Senat FIB Unhas, Makassar. Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Sastra Daerah, Prof. Dr. Gusnawaty, M.Hum., yang menekankan urgensi teknologi dalam pelestarian bahasa daerah.

“Proyek ini adalah langkah nyata untuk membawa bahasa Bugis ke ranah digital. Dengan teknologi AI, kita tidak hanya menyimpan, tetapi juga menghidupkan bahasa daerah dalam ekosistem big data,” ujarnya.

Dekan FIB Unhas, Prof. Dr. Andi Muhammad Akhmar, M.Hum., menambahkan, riset ini tidak semata soal teknologi, melainkan juga tentang warisan budaya.

“Bahasa Bugis adalah identitas masyarakat Sulawesi Selatan. Melalui riset ini, kami berusaha mendokumentasikan sekaligus melestarikan bahasa daerah dengan pendekatan modern,” katanya.

Hadir pula Wakil Dekan III FIB Unhas, Dr. Wahyuddin, S.S., M.Hum., jajaran dosen Sastra Daerah, serta tim penanggung jawab riset. Dari pihak BRIN, kerja sama ini dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem big data nasional yang inklusif. Dengan pengembangan POS Tagger dan sistem transkripsi audio berbasis AI, bahasa Bugis bisa terdokumentasi secara sistematis dan siap beradaptasi di era digital.

Sebagai salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia, Bugis memiliki jumlah penutur yang signifikan. Namun, derasnya arus globalisasi membuat dokumentasi dan pelestariannya menjadi pekerjaan mendesak. Karena itu, sinergi antara BRIN dan Unhas diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan inovasi berbasis teknologi.

Langkah ini tidak hanya memperkuat riset akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Dengan dukungan teknologi mutakhir, bahasa Bugis diharapkan tak hanya bertahan, tetapi semakin kokoh dalam lanskap big data dan literasi digital nasional. (*)